Home » » Secangkir Kopi dan Teh untukmu

Secangkir Kopi dan Teh untukmu

Senang sungguh aku bisa buatkanmu kopi pagi dan menyeduhkan teh di malam hari. Kesibukan baru untukku. Dari sekadar bentuk perhatian untukmu, hingga keduanya menjadi candu.

Sruput kopi pagi itu agar bisa kau raih hari terbaik. Maafkan jika kurang manis sedikit encer atau mungkin terlalu banyak gula dan kopi yang kutuang di sana.

Hari masih pagi. Kita berdua bersiap untuk berangkat kerja. Tak perlu kau luruskan letak kerah kemejaku yang melenceng, meski sulit untukku melakukannya sendiri. Juga tanganmu tak harus kotor menyentuh tali sepatuku yang tak sempat kuikat karena terburu-buru.

Habiskan kopi itu dan cepat bergegas sebelum telat. Hati-hati di perjalanan dan jangan lupa makan siangmu.

Secangkir teh manis sudah siap di meja. Harum. Masih berasap. Aku membuat cepat agar kamu bisa menikmatinya setelah menyelesaikan pekerjaan yang kau bawa ke rumah malam itu.

Nikmati setiap tegukannya. Tandaskan hingga dasar cangkirnya agar tubuhmu hangat, dan lekas beristirahat. Semoga teh itu bisa menghilangkan penat dan pegal tubuhmu dan bisa mengantarmu tidur.

Aku ?... Pegal ditengkuk ku akan hilang dengan sendirinya ku bawa lelap. Tidur saja lebih dulu. Aku masih harus memasak air untukmu dan menyimpannya di dalam termos, untukmu mandi besok subuh.

Pernah kau melarangku rutin membuatkan kopi dan teh itu. Kamu bilang kadang terburu-buru berangkat untuk rapat. Minum kopi di tempat kerjamu adalah sebagai gantinya. Pagi itu jam tujuh hampir penuh. Namun aku tetap membuatnya meski hanya kau minum setengahnya saja.

Teh dalam jamuan kerja juga pernah menjadi alasanmu untuk tidak melirik teh buatanku. Semut girang bukan kepalang dan segera mengerubutinya.

Lalu, kamu bilang pada ku untuk membiasakan diri langsung berangkat kerja tanpa membuatkanmu kopi. Dan cepat tidur pada malam hari tanpa harus repot-repot meyeduhkanmu teh.

Jelas aku menolaknya. Biar saja aku terus membuatkamu kopi pagi dan menyeduhkan teh untukmu. Diminum atau tidak, hingga menyemut, itu adalah pilihanmu.

"Sampai kapan?" tanyamu malam itu saat aku sedang mengaduk teh. Aku menggeleng bimbang.

Sampai aku lupa bentuk cangkir dan sendok pengaduk. Sampai aku tidak bisa membedakan mana gula, garam, atau merica. Sampai aku tidak lagi bisa membaui harum bubuk kopi, Sampai aku tidak bisa merasakan panas air mendidih yang tumpah ke tapak tangan, Sampai giliran semut-semut itu mengerebuti tubuhku" jawabku sontak.

Sayang, Bangun...Lihat kepul asap dari cangkir kopimu...

Tangerang, 11/10/09 (ditulis oleh Suriyanto Bari)



Ditulis Oleh : kabar kalianda ~ Blogger Kalianda

Sobat sedang membaca artikel tentang Secangkir Kopi dan Teh untukmu. Sobat diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini, dan jangan lupa untuk follow dan meninggalkan komentar sobat.

:: Cara Membuat Permalink disini ::

Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya, jangan lupa tinggalkan komentar dan Follownya untuk perkembangan blog ini. No Approval No Captcha. Langsung Muncul. Happy Blogging ^_^

Masukan URLPanjang Sobat:
 
Author : Kabar Kalianda | Sitemap | Feeds
Copyright © 2013. Blogger Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger